MORFOLOGI
Morfologi mempelajari
seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap
golongan dan arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi
mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk
kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi.
Kata Morfologi berasal
dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani morphe yang
digabungkan dengan logos. Morphe berarti bentuk dan dan logos berarti ilmu.
Bunyi [o] yang terdapat diantara morphed an logos ialah bunyi yang biasa muncul
diantara dua kata yang digabungkan. Jadi, berdasarkan makna unsur-unsur
pembentukannya itu, kata morfologi berarti ilmu tentang
bentuk.
Dalam kaitannya dengan
kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata. Selain itu,
perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan kelas kata
yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek pembicaraan dalam
morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam
morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi.
Itulah sebabnya,
dikatakan bahwa morfologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk kata
(struktur kata) serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap makna
(arti) dan kelas kata.
Menurut Ramlan pengertian morfologi adalah bagian
dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk kata serta perubahan bentuk kata
serta perubahan bentuk kata terhadap arti dan golongan kata. Bentuk kata yaitu
:
a.
Kata dasar, contohnya sepeda
b.
Kata berimbuhan, contoh berepeda
c.
Kata majemuk, contohnya sapu tangan
d.
Kata ulang, contohnya berbondong-bondong
Pembagian bentuk kata menurut C.A. Mees yang
berkebangsaan belanda terdiri dari:
a.
Kata benda
b.
kata kerja
c.
kata sifat
d.
kata ganti
e.
kata bilangan
f.
kata depan
g.
kata sandang
h.
kata sambung
i.
kata seru
j.
kata keterangan.
Perbedaan golongan
arti kata-kata tidak lain disebabkan oleh perubahan bentuk kata. Karena itu,
maka morfologi, disamping bidangnya yang utama menyelidiki seluk beluk bentuk
kata, juga menyelidiki kemungkinan adanya perubahan golongan arti kata yang
timbul sebagai akibat perubahan bentu kata. Arti kata ini misalnya, bersepeda
dan sepeda, yang berarti sepeda, artinya benda yang memiliki roda dua yang
dijalankan dengan cara dikayuh, serta bersepeda, artinya kegiatan menggunakan
sepeda. Jadi arti kata hanya mengartikan kata tersebut. Juga bisa dilihat dari
sepeda dan bersepeda dengan diberi imbuhan maka kata sepeda dan bersepeda pun
menjadi beda. Jos daniel perera memberi batasan morfologis (proses), yaitu
morfemis adalah proses perubahan dari golongan kata yang satu lalu berubah
menjadi golongan kata yang lain akan tetapi dengan kata dasar yang sama.
Misalnya sepeda menjadi bersepeda arti (sanksekerta) hanya untuk kata dasar
(sepeda), makna (arab), untuk menunjukan arti imbuhan gramatikal, contohnya
bersepeda dll.
B. Morfem
1. Pengertian Morfem
Morfem adalah suatu
bentuk bahasa yang tidak mengandung bagian-bagian yang mirip dengan bentuk
lain, baik bunyi maupun maknanya. (Bloomfield, 1974: 6).
Morfem adalah
unsur-unsur terkecil yang memiliki makna dalam tutur suatu bahasa (Hookett
dalam Sutawijaya, dkk.). Kalau dihubungkan dengan konsep satuan gramatik, maka
unsur yang dimaksud oleh Hockett itu, tergolong ke dalam satuan gramatik
yang paling kecil.
Morfem, dapat juga dikatakan
unsur terkecil dari pembentukan kata dan disesuaikan dengan aturan suatu
bahasa. Pada bahasa Indonesia morfem dapat berbentuk imbuhan. Misalnya kata
praduga memiliki dua morfem yaitu /pra/ dan /duga/. Kata duga merupakan
kata dasar penambahan morfem /pra/ menyebabkan perubahan arti pada kata duga.
Berdasarkan
konsep-konsep di atas di atas dapat dikatakan bahwa morfem adalah satuan
gramatik yang terkecil yang mempunyai makna, baik makna leksikal maupun makna
gramatikal.
Kata memperbesar misalnya,
dapat kita potong sebagai berikut
mem–perbesar
per-besar
Jika besar dipotong
lagi, maka be- dan –sar masing-masing tidak
mempunyai makna. Bentuk seperti mem-, per-, dan besar disebut
morfem. Morfem yang dapat berdiri sendiri, seperti besar,
dinamakan morfem bebas, sedangkan yang melekat pada
bentuk lain, seperti mem- dan per-, dinamakan
morfem terikat. Contoh memperbesar di atas adalah
satu kata yang terdiri atas tiga morfem, yakni dua morfem terikat mem- dan per- serta
satu morfem bebas, besar.
2. Morf dan Alomorf
Morf dan alomorf
adalah dua buah nama untuk untuk sebuah bentuk yang sama. Morf adalah nama
untuk sebuah bentuk yang belum diketahui statusnya (misal: {i} pada kenai);
sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui
statusnya (misal [b¶r], [b¶], [b¶l] adalah alomorf dari morfem ber-. Atau
bias dikatakan bahwa anggota satu morfem yang wujudnya berbeda, tetapi yang
mempunyai fungsi dan makna yang sama dinamakan alomorf. Dengan kata lain
alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam penuturan) dari sebuah morfem. Jadi
setiap morfem tentu mempunyai almorf, entah satu, dua, atau enam buah.
Contohnya, morfem meN- (dibaca: me nasal): me-, mem- men-, meny-, meng-,
dan menge-. Secara fonologis, bentuk me- berdistribusi, antara lain, pada
bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /I/ dan /r/; bentuk mem-
berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /b/ dan juga /p/;
bentuk men- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya /d/ dan juga
/t/; bentuk meny- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya /s/;
bentuk meng- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya, antara lain
konsonan /g/ dan /k/; dan bentuk menge- berdistribusi pada bentuk dasar yang
ekasuku, contohnya {menge}+{cat}= mengecat. Bentuk-bentuk realisasi yang
berlainan dari morfem yang sama tersebut disebut alomorf.
3. Prinsip-prinsip Pengenalan Morfem
Untuk mengenal morfem
secara jeli dalam bahasa Indonesia, diperlukan petunjuk sebagai pegangan. Ada
enam prinsip yang saling melengkapi untuk memudahkan pengenalan morfem (Lihat
Ramlan, 1980), yakni sebagai berikut:
3.1 Prinsip
pertama
Bentuk-bentuk yang
mempunyai struktur fonologis dan arti atau makna yang sama merupakan satu
morfem.
Membaca kemanusiaan
Contoh:
Baca ke-an
Pembaca kecepatan
Bacaan kedutaan
Membacakan kedengaran
Karena
struktur fonologis danmaknanya sama, maka satuantersebut merupakan morfemyang
sama. Satuan tersebut walaupunstruktur fonologisnya sama,bukan merupakan
morfemyang sama karena makna gramatikalnya berbeda.
3.2
Prinsip Kedua
Bentuk-bentuk yang
mempunyai struktur fonolis yang berbeda, merupakan satu morfem apabila
bentuk-bentuk itu mempunyai arti atau makna yang sama, dan perbedaan struktur
fonologisnya dapat dijelaskan secara fonologis. Perubahan setiap morf itu
bergantung kepada fonem awal morfem yang dilekatinya.
Contoh:
mem –
:
membawa
meN-
men
–
: menulis
meny
–
: menyisir
meng
–
: menggambar
me-
: melempar
Perubahan setiap morf
itu bergantung kepada fonem awal morfem yang dilekatinya.
3.3 Prinsip
Ketiga
Bentuk-bentuk yang
mempunyai struktur ontologis yang berbeda, sekalipun perbedaannya tidak dapat
dijelaskan secara fonologis, masih dapat dianggap sebagai satu morfem apabila
mempunyai makna yang sama, dan mempunyai distribusi yang komplementer.
Perhatikan contoh berikut:
ber-
: berkarya, bertani, bercabang
bel-
: belajar, belunjur
be-
: bekerja, berteriak, beserta
Kedudukan afiks ber-
yang tidak dapat bertukar tempat itulah yang disebut distribusi komplementer.
3.4 Prinsip
Keempat
Apabila dalam deretan
struktur, suatu bentuk berpararel dengan suatu kekosongan, maka kekosongan itu
merupakan morfem, ialah yang disebut morfem zero.
Misalnya:
1.
Rina membeli sepatu
2.
Rina menulis surat
3.
Rina membaca novel
4.
Rina menggulai ikan
5.
Rina makan pecal
6.
Rina minum susu
Semua kalimat itu
berstruktur SPO. Predikatnya tergolong ke dalam verba aktif transitif. Lau pada
kalimat a, b. c, dan d, verba aktif transitif tersebut ditandai oleh meN-,
sedangkan pada kalimat e dan f verba aktif transitif itu ditandai kekosongan
(meN- tidak ada), kekosongan itu merupakan morfem, yang disebut morfem zero.
3.5 Prinsip
Kelima
Bentuk-bentuk yang
mempunyai struktur fonologis yang sama mungkin merupakan satu morfem, mungkin
pula merupakan morfem yang berbeda. Apabila bentuk yang mempunyai struktur
fonologis yang sama itu berbeda maknanya, maka tentu saja merupakan fonem yang
berbeda.
Contoh:
1.
a. Jubiar membeli buku
b. Buku itu
sangat mahal
1.
a. Juniar membaca buku
b. Juniar
makan buku tebu
Satuan buku pada
kalimat 1. a dan 1. b merupakan morfem yang sama karena maknanya sama. Satuan
buku pada kalimat kalimat 2. a dan 2. b bukanlah morfem yang sama karena
maknanya berbeda.
3.6 Prinsip
Keenam
Setiap bentuk yang
tidak dapat dipisahkan merupakan morfem. Ini berarti bahwa setiap satuan
gramatik yang tidak dapat dipisahkan lagi atas satuan-satuan gramatik yang
lebih kecil, adalah morfem. Misalnya, satuan ber– dan lari pada berlari,
ter– dan tinggi pada tertinggi tidak
dapat dipisahkan lagiatas satuan-satuan yang lebih kecil. oleh karena
itu, ber-, lari, ter, dan tinggi adalah
morfem.
4.
Klasifikasi Morfem
4.1 Morfem Bebas
dan Morfem Terikat
Morfem ada yang
bersifat bebas dan ada yang bersifat terikat. Dikatakan morfem bebas karena ia
dapat berdiri sendiri, dan dikatakan terikat jika ia tidak dapat berdiri
sendiri.
Misalnya:
1.
Morfem bebas – “saya”, “buku”, dsb.
2.
Morfem terikat – “ber-“, “kan-“, “me-“, “juang”, “henti”,
“gaul”, dsb.
4.2 Morfem Segmental
dan Morfem Supra Segmental
Morfem segmental
adalah morfem yang terjadi dari fonem atau susunan fonem segmental. Sebagai
contoh, morfem {rumah}, dapat dianalisis ke dalam segmen-segmen yang
berupa fonem [r,u,m,a,h]. Fonem-fonem itu tergolong ke dalam fonem segmental.
oleh karena itu, morfem {rumah} tergolong ke dalam jenis morfem segmental.
Morfem supra segmental
adalah morfem yang terjadi dari fonem suprasegmental. Misal, jeda dalam
bahasa Indonesia. Contoh:
1.
bapak wartawan bapak//wartawan
2.
ibu guru ibu//guru
4.3 Morfem
Bermakna Leksikal dan Morfem Tak Bermakna Leksikal
Morfem yang bermakna
leksikal merupakan satuan dasar bagi terbentuknya kata. morfem yang bermakna
leksikal itu merupakan leksem, yakni bahan dasar yzng setelah mengalami
pengolahan gramatikal menjadi kata ke dalam subsistem gramatika. Contoh: morfem
{sekolah}. berarti ‘tempat belajar’.
Morfem yang tak
bermakna leksikal dapat berupa morfem imbuhan, seperti {ber-}, {ter-}, dan
{se-}. morfem-morfem tersebut baru bermakna jika berada dalam pemakaian.
Contoh: {bersepatu} berarti ‘memakai sepatu’.
4.4 Morfem Utuh
dan Morfem Terbelah
Morfem utuh merupakan
morfem-morfem yang unsur-unsurnya bersambungan secara langsung. Contoh:
{makan}, {tidur}, dan {pergi}.
Morfem terbelah
morfem-morfem yang tidak tergantung menjadi satu keutuhan. morfem-morfem itu
terbelah oleh morfem yang lain. Contoh: {kehabisan} dan {berlarian} terdapat
imbuhan ke-an atau {ke….an} dan imbuhan ber-an atau {ber….an}. contoh lain
adalah morfem{gerigi} dan {gemetar}. Masing-masing morfem memilki morf /g..igi/
dan /g..etar/. Jadi, ciri terbelahnya terletak pada morfnya, tidak terletak
pada morfemnya itu sendiri. morfem itu direalisasikan menjadi morf terbelah
jika mendapatkan sisipan, yakni morfem sisipan {-er-} pada morfem {gigi} dan
sisipan {-em-} pada morfem {getar}.
4.5 Morfem
Monofonemis dan Morfem Polifonemis
Morfem monofonemis
merupakan morfem yang terdiri dari satu fonem. Dalam bahasa Indonesia pada
dapat dilihat pada morfem {-i} kata datangi atau morfem{a}
dalam bahasa Inggris pada seperti pada kata asystematic.
Morfem polifonemis
merupakan morfem yang terdiri dari dua, tiga, dan empat fonem. Contoh, dalam
bahasa Inggris morfem {un-} berarti ‘tidak’ dan dalam bahasa Indonesia morfem
{se-} berarti ‘satu, sama’.
4.6 Morfem
Aditif, Morfem Replasif, dan Morfem Substraktif
Morfem aditif adalah
morfem yang ditambah atau ditambahkan. kata-kata yang mengalami afiksasi,
seperti yang terdapat pada contoh-contoh berikut merupakan kata-kata yang
terbentuk dari morfem aditif itu.
1.
mengaji 2. childhood
berbaju
houses
Morfem replasif
merupakan morfem yang bersifat penggantian. dalam bahasa Inggris, misalnya,
terdapat morfem penggantian yang menandai jamak. Contoh: {fut} Ã {fi:t}.
Morfem substraktif
adalah morfem yang alomorfnya terbentuk dari hasil pengurangan terhadap unsur
(fonem) yang terdapat morf yang lain. Biasanya terdapat dalam bahasa Perancis.
C. Proses Morfologis
Proses morfologis
dapat dikatakan sebagai proses pembentukan kata dengan menghubungkan morfem
yang satu dengan morfem yang lain yang merupakan bentuk dasar (Cahyono,
1995: 145). Dalam proses morfologis ini terdapat tiga proses yaitu:
pengafiksan, pengulangan atau reduplikasi, dan pemajemukan atau penggabungan.
1. Pengafiksan
Bentuk (atau morfem)
terikat yang dipakai untuk menurunkan kata disebut afiks atau imbuhan (Alwi
dkk., 2003: 31). Pengertian lain proses pembubuhan imbuhan pada suatu satuan,
baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk
kata (Cahyono, 1995:145). Contoh:
1.
Berbaju
2.
Menemukan
3.
Ditemukan
4.
Jawaban.
Bila dilihat pada
contoh, berdasarkan letak morfem terikat dengan morfem bebas pembubuhan dapat
dibagi menjadi empat, yaitu pembubuhan depan (prefiks), pembubuhan tengah
(infiks), pembubuhan akhir (sufiks), dan pembubuhan terbelah (konfiks).
2. Reduplikasi
Reduplikasi adalah
pengulangan satuan gramatikal, baik seluruhnya maupun sebagian, baik disertai
variasi fonem maupun tidak (Cahyono, 1995:145).
Contoh:
berbulan-bulan, satu-satu, seseorang, compang-camping, sayur-mayur.
3. Penggabungan atau Pemajemukan
Proses pembentukan
kata dari dua morfem bermakna leksikal (Oka dan Suparno, 1994:181).
Contoh:
1.
Sapu tangan
2.
Rumah sakit
4. Perubahan Intern
Perubahan intern
adalah perubahan bentuk morfem yang terdapat dalam morfem itu sendiri.
Contoh: dalam bahasa
Inggris
Singular
|
plural
|
Foot
Mouse
|
Feet
mice
|
5. Suplisi
Suplisi adalah proses
morfologis yang menyebabkan adanya bentuk sama sekali baru.
Contoh: dalam bahasa
Inggris
Go
went
sing
sang
6. Modifikasi kosong
Modifikasi kosong
ialah proses morfologis yang tidak menimbulkan perubahan pada bentuknya tetapi
konsepnya saja yang berubah.
Contoh: read-
read-read
D. Proses Morfofonemik
Proses perubahan fonem
sebuah morfem yang digunakan untuk mempermudah ucapan.
Contoh:
Perubahan prefiks
meng-
–
meng + asah = mengasah
–
meng + lihat = melihat
–
menga + datangkan = mendatangkan
–
meng + terjemah = menerjemahkan
–
meng + patuhi = mematuhi
E. Proses morfemis menurut Verhaar
1.
Afiksasi adalah pengimbuhan afiks
2.
Prefix adalah imbuhan di sebelah kiri bentuk dasar.
Contoh: mengajar
1.
Sufiks adalah imbuhan di sebelah kanan bentuk dasar
Contoh: ajarkan
1.
Infiks adalah imbuhan yang disisipkan dalam kata dasar
Contoh: gerigi
1.
Konfiks adalah imbuhan dan akhiran pada sebuah bentuk dasar
Contoh: perceraian
1.
Fleksi adalah afiksasai yang terdiri atas golongan kata yang
sama
Contoh: mengajar – diajar
3. Derifasi
adalah afiksasi yang terdiri atas golongan kata yang tidak sama
Contoh: mengajar –
pengajar
1.
Klitika adalah morfem pendek yang tidak dapat diberi aksen atau
tekanan melekat pada kata atau frasa lain dan meiliki arti yang tidak mudah
untuk dideskripsikan secara leksikal, serta tidak melekat pada kelas kata
tertentu.
Contoh: -pun, -lah
sekalipun
apalah
F. Kata
1. Hakikat Kata
Para linguis yang
sehari-hari bergelut dengan kata ini, hingga dewasa ini, kiranya tidak pernah
mempunyai kesamaan pendapat mengenai konsep apa yang di sebut dengan kata itu.
Satu masalah lagi mengenai kata ini adalah mengenai kata sebagai satuan
gramatikal. Menurut verhaar (1978) bentuk-bentuk kata bahasa Indonesia,
misalnya: mengajar, di ajar, kauajar, terjar, dan ajarlah bukanlah lima buah
kata yang berbeda, melainkan varian dari sebuah kata yang sama. Tetapi
bentuk-bentuk, mengajar, pengajar, pengajaran, dan ajarlah adalah lima kata
yang berlainan.
Kata adalah satuan
terkecil dari kalimat yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna. Kata-kata
yang terbentuk dari gabungan huruf atau morfem baru kita akui sebagai
kata bila bentuk itu sudah mempunyai makna. (Lahmudin Finoza).
Kata ialah morfem atau
kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang
dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas. (Kridalaksana). Perhatikan kata-kata
di bawah ini.
1.
Mobil
2.
Rumah
3.
Sepeda
4.
Ambil
5.
Dingin
6.
Kuliah.
Keenam kata yang kita
ambil secara acak itu kita akui sebagai kata karena setiap kata mempunyai
makna. Kita pasti akan meragukan, bahkan memastikan bahwa adepes,
libma, ninggib, haklab bukan kata dari bahasa Indonesia karena tidak
mempunyai makna.
Dari segi bentuknya
kata dapat dibedakan atas dua macam, yaitu (1) kata yang bermofem
tunggal, dan (2) kata yang bermorfem banyak. Kata yang
bermorfem tunggal disebut juga kata dasar atau kata yang tidak berimbuhan. Kata
dasar pada umumnya berpotensi untuk dikembangkan menjadi kata turunan atau kata
berimbuhan. Perhatikan perubahan kata dasar menjadi kata turunan dalam tabel di
bawah ini.
2. Pembentukan
Kata
Pembentukan kata ini
mempunyai dua sifat, yaitu membentuk kata-kata yang inflektif, dan kedua yang
bersifat derivatif. Apa yang dimaksud dengan inflektif dan derivatif akan
dibicarakan berikut ini.
1). Inflektif
Kata-kata dalam
bahasa-bahasa berfleksi, seprti bahasa arab, bahasa latin, bahasa sansekerta,
untuk dapat digunakan di dalam kalimat harus disesuaikan dulu bentuknya dengan
kategori-kategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu.
2). Derifatif
Pembentukan kata secara
derivatif adalah membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak
sama dengan kata dasarnya, contoh dalam bahasa indonesia dapat diberikan,
misalnya, dari kata air yang berkelas nomina dibentuk
menjadi mengairi yang berkelas verba: dari kata makan yang
berkelas verba dibentuk kata makanan yang berkelas nomina.
Tabel 1
Perubahan Kata Dasar
Menjadi Kata Turunan
yang Mengandung
Berbagai Arti
Kata Dasar
|
Pelaku
|
Proses
|
Hal/Tempat
|
Perbuatan
|
Hasil
|
Asuh
baca
bangun
buat
cetak
edar
potong
sapu
tulis
ukir
|
pengasuh
pembaca
pembangun
pembuat
pencetak
pengedar
pemotong
penyapu
penulis
pengukir
|
pengasuhan
pembacaan
pembangunan
pembuatan
pencetakan
pengedaran
pemotongan
penyapuan
penulisan
pengukiran
|
perbuatan
percetakan
peredaran
perpotongan
persapuan
|
mengasuh
membaca
membangun
membuat
mencetak
mengedar
memotong
menyapu
menulis
mengukir
|
asuhan
bacaan
bangunan
buatan
cetakan
edaran
potongan
sapuan
tulisan
ukiran.
|
Dalam tabel 1 itu
terlihat perubahan kata dasar menjadi kata turunan selain mengubah bentuk, juga
mengubah makna. Selanjutnya, perubahan makna mengakibatkan perubahan jenis atau
kelas kata.
TUGAS
MORFEM BEBAS
1. pantai
2. di
3. tengah
4. untuk
5. pekan
6. tempat
7. yang
8. sangat
9. indah
10. tidak
11. dengan
12.jam
13. dari
14. ini
15. sedang
17. ke
18. pasalnya
19. lumayan
20. wisatawan
21. itu
22. belum
23. alternatif
24. para
25. banyak
26. makan
27. boleh
MORFEM TERIKAT
1. liburan
2. keindahannya
3. dilirik
4. menariknya
5. namanya
6. memiliki
7. dilewatkan
8.berkunjung
9. pasalnya
10.keistimewahan
11. pasirnya
12. lautnya
13. terdapat
14. menambah
15. keindahan
16. berkunjung
17. membawa
18. peralatan
19. bermalam
20. penginapan
21. sehingga
22. biasanya
23. menjual
24. tangkapan
25. membuat
26. menikmati
27. sebuah
28. petualangan
29. menyenangkan
30. berada
Sumber:
https://susandi.wordpress.com/seputar-bahasa/morfologi-2/